Rabu, 17 Juni 2009

Media Pengajaran Musik

DEFINISI MEDIA PENGAJARAN/ PEMBELAJARAN MUSIK

Media pengajran/pembelajaran musik memiliki arti yang luas, hal ini disebabkan oleh arti kata musik sendiri yang memiliki arti yang luas. Untuk dapat memahaminya kata media dan musik didefinisikan sendiri-seendiri agar dapat ditarik kesimpulan tentang definisi media pembelajaran musik itu sendiri.

Definisi media ialah alat (sarana) komunikasi. Sedangkan komunikasi sendiri didefinisikan sebagai pengiriman atau penerimaan pesan atau berita antara 2 orang atau lebih dengan cara yang tepat sehingga pesan yang dimaksudkan dapat dipahami

Sedangkan definisi musik yaitu berasal dari bahasa Yunani mousike, pada jaman sekarang diartikan sebagai ilmu atau seni menyusun nada atau suara di urutan, kombinasi, dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai kesatuan dan kesinambungan. Dapat juga diartikan sebagai nada atau suara yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan (terutama yang menggunakan alat-alat musik).

Selain definisi musik diatas musik juga diartikan sebagai aransemen artistik yang menghasilkan suara yang indah (menurut Liszt dan Wagner).

Sedangkan menurut Jean Paul (salah seorang penyair jaman Romantik) mendefinisikan musik sebagai pantulan bunyi yang berasal dari dunia yang jauh. Demikian halnya dengan Shakespare yang mendefinisikan musik sebagai bahasa universal manusia.

Leibniz salah seorang seniman di jaman Middle Age yang lebih banyak menilai musik dari segi matematik mangatakan bahwa musik adalah hitung-hitungan yang berasal dari pikiran tanpa menyadari bahwa itu sebenarnya hitung-hitungan. Sama halnya dengan definisi matemaika menurut Bertrand Russell’s yang mendefiniskan matematika sebagai bidang ilmu yang kita sendiri tidak pernah tahu apa yang sedang bicarakan, walaupun kita mengatakan bahwa hal itu benar.

Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang berada di alam adalah musik. Pendapat ini beranjak dari pemikiran bahwa alam semesta dari unsur yang paling terkecil hingga alam semesta bergetar (berarti memiliki frekuensi dan menghasilkan bunyi), memiliki ritme pergerakannya yang membentuk keharmonisan gerak dan bunyi antara satu dengan yang lainnya.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan dalam bentuk gambar definisi sederhana tentang media pembelajaran musik:





Dari definisi di atas ada beberapa hal yang harus dipikirkan seorang pengajar dalam menggunakan media pembelajaran musik:

1. Dari segi musik

Yaitu musik/ ensamble apa yang akan dipelajari, beberapa contoh ensamble yang biasa dipelajari seperti orchestra, musik kamar, band, ensamble keyboard, marching band, ensamble gitar, paduan suara, ensamble pianika, ensamble recorder.

2. Dari segi media

Yaitu keseluruhan intrumen yang digunakan pada ensamble-ensamble di atas. Selain itu penggunaan software sebagai media pembelajaran berbasis teknologi. Sofware yang biasa digunakan ialah Finale, Sibelius, Encore, Cakewalk, Guitar Pro (digunakan untuk menulis aransemen dan komposisi), Sony Forge, Adobe Audition, Edirol, Nuendo, Coll Edit Pro, (Digunakan untuk mixering). Selain media di atas semua hal yang dapat membantu proses pembelajaran musik dpaat dikategorikan ke dalam media pembelajaran musik.

3. Dari segi pelajar

Yaitu ditinjau dari segi budaya, efektivitas dan efisiensitas penggunaan media dalam proses pembelajaran musik.

BEBERAPA ALAT MUSIK DALAM ALKITAB

Sebelum kita mempelajari tentang beberapa media yang sering digunakan, marilah kita mempelajri terlebih dahulu tentang instrumen jaman Alkitab yang digunakan sebagai media pembelajaran musik:

1. Kecapi

Alat musik ini pertama kali disebutkan dalam Kejadian 4:21. Sesungguhnya ada bermacam-macam kecapi pada jaman Alkitab. Kecapi Daud itu mungkin sederhana sekali, terbuat dari kayu, dengan hanya tiga atau empat senar saja, hal ini berbeda dengan orang lewi di Bait Allah yang didirikan oleh Raja Salomo, mereka memainkan kecapi dengan bahan ukiran yang sangat indah.

Kcapi0001.TIF


2. Harpa atau gambus

Kcapi.TIF

Sisi gambus yang berdiri tegak itu biasanya terbuat dari kayu, terkadang dilapisi dengan kulit binatang. Lapisan kulit pada rangka gambus berfungsi untuk memperbesar bunyi getaran senar-senarnya. Tali-tali pada sebuah gambus sebanyak sepuluh sampai dua belas dan terbuat dari usus domba dengan diameter yang lebih besar bila dibandingkan dengan kecapi. Ukurannya bermacam-macam ada yang dapat dibawa dengan tangan tetapi ada yang tingginya mencapai dua kali lebih tinggi daripada tubuh manusia (1 Tawarikh 15:20).

Paling sedikit dua gambus dimainkan tiap hari dalam Bait Allah yang didirikan oleh Raja Salomo. Kadang-kadang sebanyak enam gambus bass yang menambahkan suara bass yang empuk pada nyanyian orang-orang lewi.

3. Alat musik sepuluh tali

Kcapi 10 tali.TIF

Dalam Mazmur 33:2; 144:9 disebutkan “gambus sepuluh tali”. Di dalam Mazmur 92:4 disebutkan “bunyi-bunyian sepuluh tali”. Di dalam Mazmur 92:3 dari versi Alkitab Kabar Baik diistilahkan dengan “gitar sepuluh tali”.

Istilah-istilah di atas menunjuk kepada sebuah alat musik yang gambarnya terukir pada sebuah peti kecil dari gading yang ditemukan dalam puing-puing istana seorang raja bangsa Asyur. Ukiran dari gading itu memperlihatkan dua perempuan yang sedang memainkan dua alat musik yang sama bentuknya. Dan tiap alat musik itu mempunyai sepuluh tali.

4. Sangkakala

gambus.TIF

Alat musik ini masih dipakai hingga sekarang berbeda dengan alat musik jaman Alkitab lain yang telah dibahas terlebih dahulu. Pada jaman sekarang sangkakala lebih dikenal dengan istilah terompet. Sangkakala ialah alat tiup yang dibuat dari tanduk binatang (Yosua 6:4).

Sangkakala adalah alat musik yang berfungsi memberikan aba-aba dan jarang digunakan dengan alat musik yang lain. Di dalam Hakim-hakim 7:16-21 pasukan Gideon berhasil mengalahkan bala tentara musuh dengan bunyi yang keras dari tiga ratus sangkakala sekaligus. Salain itu sangkakala juga digunakan untuk hari-hari besar keagamaan, penobatan raja, penanda masa kekeringan dan wabah penyakit dll.

5. Nafiri

trompet.TIF


Nafiri yang paling terkenal ialah “Nafiri Kembar” yang disebutkan dalam Bilangan 10:1-10. Sepanjang Abad, bangsa Ibrani tetap memakai kedua Nafiri kembar ini sesuai dengan perintah Tuhan melalui Nabi Musa di padang gurun. Ketika bala tentara Romawi megepung kota Yerusalem pada tahun 70 M, Jendral Titus merampas dan membawa pulang dua Nafiri kembar, dan sejak itu keberadaan Nafiri ini tidak diketahui.

Nafiri kembar ini diperdengarkan pada hari-hari yang sangat istimewa seperti pada hari Raja Daud membawa masuk Tabut perjanjian Tuhan yang berisikan kedua loh batu dengan sepuluh Hukum, pada hari Raja Salomo menabiskan Bait Allah, pada hari peletakan batu pertama dari sebuah Bait Allah yang baru berabad-abad kemudian, pada hari pembangunan kembali tembok Yerusalem.

trompet 2.TIF

6. Suling

seruling 2.TIF

seruling.TIF


Suling dibuat dari kayu, logam bahkan dari tulang (tulang betis hewan yang disebut dengan istilah “tibia”. Istilah ini masih digunakan hingga sekarang. Ada juga yang disebut dengan suling rangkap yang menjadi cikal bakal alat musik tiup klarinet dan saxofon.

7. Rebana

rebana.TIF

Alat musik ini dibuat khusus untuk kaum wanita. Bahannya sama dengan rebana masa kini yaitu dari kayu dan kulit binatang. Dalam 1 Samuel 18:6 dikatakan rebana digunakan untuk menyongsong Raja Saul dan Daud sedangkan dalam Mazmur 68:25-26 rebana digunakan dalam iring-iringan besar ketika tabut perjanjian dipindahkan ke kota Yerusalem.

8. Simbal Perunggu

simbal.TIF

Simbal adalah alat musik yang hanya dimainkan oleh para imam dan orang Lewi. Mazmur 150:5 menggambarkan dua jenis simbal yang dipakai yaitu ceracap dan canang. Menurut beberapa tafsiran simbal digunakan dalam kebaktian orang-orang ibrani dan dibunyikan ketika kata “Sela” diucapkan.


9. Giring-giring emas

giring-giring.TIF

Selain ceracap dan canang alat musik lain yang haya dimainkan oleh para imam dan orang Lewi adalah giring-girng emas. Berbeda dengan ceracap dan canang yang terbuat dari perunggu, alat musik ini terbuat dari emas. Sesungguhnya para imam besar tidak memainkan alat musik ini, suara yang dihasilkan bersal dari gerakan. Dalam Kitab Kejadian 28:33-35 dijelaskan tentang petunjuk menjahit giring-giring emas.

PENGARUH BUDAYA MUSIK BARAT PADA BUDAYA MUSIK INDONESIA DALAM KAITANNYA DENGAN MODERNISASI

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang terkenal dengan nilai kebudayaannya yang beraneka ragam. Kebudayaan yang beraneka ragam ini membentuk suatu kebudayaan yang disebut dengan kebudayaan nasional. Pada hakekatnya kebudayaan nasional tercermin dalam tingkah laku masyarakat Indonesia yang dapat dinilai dari dalam (dari masyarakat Indonesia sendiri) maupun dari luar (masyarakat dunia). Seiring dengan perkembangan zaman, mau tidak mau sifat dan tingkah laku bangsa Indonesia mengalami pergeseran ke arah yang lebih modern.

Bangsa Indonesia sedang mengalami modernisasi yang gejala-gejalanya jelas terlihat pada perubahan pola pendidikan, pola pergaulan, cara kita berpakaian, tingkat kehidupan yang lebih konsumtif dan lain-lain. Jika modernisasi ma.mpu mengubah permi­kiran individual bahkan masyarakat secara keseluruhan, bagaimana bangsa Indonesia mampu mempertahankan kebudayaan yang dimilikinya.

Modernisasi yang terjadi di dunia selalu diidentikkan dengan westernisasi, sehingga untuk menjadi modem seseorang perlu mengadopsi nilai-nilai dan gaya hidup barat. Di pihak lain, modernisasi dapat pula dikaitkan dengan sikap hidup yang lebih sesuai dengan zaman dan korelasi dunia sekarang. Hal ini berarti orang tersebut memiliki sikap hidup yang lebih terbuka, mengusahakan kehidupan yang lebih baik, meningkatkan dan berorientasi ke masa depan, bertanggung jawab atas sumber-sumber kehidupan, menilai tinggi usaha sendiri. Modernisasi menjanjikan sesuatu yang lebih baik dan berusaha untuk meninggalkan pemikiran yang konservatif dan menuju kepada suatu pola pemikiran yang sesuai dengan tuntutan hidup yang terus berkembang.

Modernisasi timbul dari sifat individualistis manusia yang cenderung ber­pikiran untuk memanfaatkan dan menciptakan sesuatu dengan konsep pemikiran meng­ubah yang dianggapnya buruk menjadi baik, baik menjadi lebih baik dan seterusnya hingga sesuatu yang diciptakannya ini dapat berguna bagi dirinya. Modernisasi menuntut perubahan dan dapat mempenganihi lingkungan sekitarnya sehingga mengikuti perubahan yang diadakan dan berakibat kompromi antara kebudayaan setempat dengan perubahan tersebut.

Jika modernisasi atau pembaratan dapat bergerak di semua lini kehidupan tidak bedanya dengan musik. Dengan kata lain, secara umum musik barat lebih dikenali bahkan digemari dari pada musik budaya Indonesia. Hal ini dapat terliahat dari musik apakah yang kita pelajari di sekolahsekolah saat ini? Teori-teori musik apakah yang dipelajari di sekolah-sekolah di Indonesia? Berikut ini adalah cuplikkan dari sebuah majalah musik yang membahas tentang boomingnya minat untuk mengikuti ujian musik Royal di tanah air

SEBUAH SMS dari teman di Depok menyebutkan, dirinya bingung setelah membaca empat kali Salam Redaksi yang membahas masalah ujian musik, dan meminta saya untuk langsung saj a ke pokok masalah: apakah ujian-ujian musik yang diselenggarakan Royal dan sebagainya itu, baik atau tidak? Perlu diikuti atau tidak?

Sungguh, saya tidak dalam kompetensi dan kapasitas untuk menjustifikasi apakah ujian Royal dan sebagainya itu baik atau tidak, dan perlu diikuti atau tidak. Dalam pem­bahasan yang keempat bulan Februari lalu, saya pikir masalahnya mulai jelas: bahwa menurut saya ada misunderstanding dalam cara pandang dan memahami ujian-ujian musik, baik yang diselenggarakan penguji lokal, maupun asing.

Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar lebih suka mengikutkan siswanya ke ujian Royal dan badan penguji asing (sekalipun dengan biaya mahal), daripada ke lembaga penguji lokal, semacam P dan K, yang milik pemerintah itu. Setiap tahun lebih dari 8 ribu siswa musik di Indonesia ikut ujian Royal. Sementara peserta ujian P dan K tak sampai seperempatnya. (Saya membayangkan berapa miliar rupiah yang dikeruk Royal dari anak­anak Indonesia setiap tahun).

Entah karena sistem, mekanisme, materi, maupun pengujinya yang jauh lebih siap dibanding yang lokal, fakta lain adalah, bahwa ujian Royal, diakui atau tidak, telah men­jadi kebanggaan dan prestise bagi siswa, guru, maupun sekolah musiknya. Ujian Royal itu serta merta menjadi standar, dan klaim tersendiri, sedemikian rupa sehingga kalau tidak ikut ujian Royal, rasanya seperti belum ujian. Saya pikir kebanggaan itu sah dan boleh­boleh saja. Tapi inilah yang sering terjadi, disadari atau tidak: kebanggaan itu kadang­kadang menjadi jauh lebih penting daripada esensi. Diam-diam, kebanggaan itu telah menjadi tujuan, bukan lagi sekadar efek samping.

Kebanggaan seperti apa ketika mendengar seorang anak berusia 10 tahun telah lulus Grade 8 Royal dengan nilai distinction? Apa yang terlintas dalam benak kita ketika seo­rang guru dengan sedih terpaksa harus menurunkan grade calon siswa yang ingin belajar kepadanya, dari Grade 8 ke Grade 5? Atau, keprihatinan seperti apa yang dapat kita rasakan ketika pemilik sekolah musik yang sedang mengaudisi calon guru, mengatakan dengan jengkel bahwa ternyata Grade 8 yang disandang calon-calon gurunya itu sama sekali tidak mencerminkan kualitasnya.

Sekali lagi, saya tidak dalam kapasitas untuk menilai baik atau buruk, perlu atau tidak perlunya ujian-ujian itu. Kita bisa menggunakan sebilah pisau dengan tujuan baik atau buruk. Bisa untuk mengiris tempe, atau membunuh orang. Jadi, bukan pisaunya yang baik atau buruk, melainkan pada niat, tujuan, dan cara untuk menggunakannya. Hasil akhirlah yang memperlihatkan nilai niat, tujuan, dan cara pisau itu digunakan.

Di akhir pembahasan tentang ujian ini, saya sependapat dengan teman guru dari Surabaya yang dengan bijak mengatakan bahwa, "Semua bergantung bagaimana kita menyikapi ilmu secara positif. Saya pikir Royal, AMEB, ANZCA, Shanghai, LCM, JXC, JOC, dan lain-lain adalah sama, mereka punya kompetensi imbang untuk memberikan penilaian yang diyakini tidak asal-asalan. Setidaknya semua lembaga tersebut telah mem­bantu guru-guru musik pada umumnya dan guru privat secara khusus untuk memberikan pengajaran yang lebih terarah dan terstruktur. Hanya saja tentu konyol jika kita sebagai guru menghabiskan waktu murid untuk berkutat dengan bahan atau silabus ujian yang di­tentukan berbaaai lembaga tersebut. Selayaknya guru wajib mengembangkan kemampuan murid-muridnya dengan memperkaya jenis repertori yang harus dikuasai sebelum naik ke tiap level. Menurut saya, kita sajalah yang harus lebih jeli, pandai-pandai, dan bijaksana dalam memilih jenis ujian yang kita tempuh agar tidak menyia-nyiakan waktu, tenaga, dan tentunva materi.". (Staccato No 78/Th.VII/Maret 2009)

Dari wacana di atas dapat diatarik beberapa pendapat, diantaranya masyarakat Indonesia lebih tertarik mempelajari musik klasik dari pada musik Indonesia, mengapa? Ada banyak jawaban yang dapat menjawab pertanyaan tersebut, mungkin jawaban yang paling sederhana ialah musik barat memiliki dokumen tertulis sejak abad ke-6 yang berakibat lebih mudah dikembangkan dari pada musik yang hanya terbentuk dari kebiasaan lisan. Sehingga lambat laun music ini semakin berkembang (menjadi musik pendidikan akademik) dan meninggalkan musik yang bersifat lisan (menjadi musik budaya) Padahal jika dipikirkan musik dari setiap budaya memiliki ciri khas yang tidak digantikan atau diwakilkan oleh budaya lain. Musik Indonesia secara budaya memiliki melodi, ritme , dan harmoni yang berbeda dengan music barat, bahkan instrumennya berbeda talanya dengan instumen musik barat. Contohnya nada gemelan tidak persis sama dengan nada di piano. Di bawah ini adalah contoh karakter budaya Indonesia yang komposisikan ke dalam sebuah komposisi piano:

The Temple by the Sea

Lagu.TIF

Iniliah realita yang kita hadapi sebagai seorang pengajar music di negeri ini, baik disadari atau tidak kita berada dalam berbagai realita-realita pembelajaran musik. Realita pertama, musik barat lebih banyak digunakan dibandingkan dengan musik budaya sendiri dalam pembelajaran music di tanah air. Kedua, Ketertarikan masyarakat lebih kepada musik barat, dengan bahasa yang lain musik barat lebih “popular” di bandaingkan dengan musik daerah. Ketiga, jika modernisasi diartikan sebagai “pembaratan” musik budaya tanah air akan tetap menjadi musik budaya. Lantas bagaimanakah sikap kita sebagai pengajar musik?

MACAM-MACAM MEDIA PEMBELAJARAN/ PENGAJARAN MUSIK

Musik dari segi pengajan dapat diartikan sebagai suatu bentuk kesenian yang di dalamnya terkandung unsur-unsur teori, estetika, apresiasi, ketrampilan yang dituangkan ke dalam suatu metode pengajaran untuk mencapai suatu tujuan (kurikulum). Musik dapat dipelajari dengan berbagai cara, hal ini bergantung dari beberapa aspek yaitu pengajar (skill), media (efektivitas dan efesiensitas), dan orang yang diajar (kualitas apresiasi). Ketiga aspek ini harus dikelompokan ke dalam konsep pengajaran musik yang akan dibuat. Konsep pengajaran ini akan menentukan media apa yang dibutuhkan. Sedangkan media sendiri terbagi ke dalam 2 kelompok yaitu media utama (alat musik) dan media pendukung (alat pendukung mengajar). Secara diagram dapat digambarkan sebagai berikut.

Dari gambar di samping dapat disimpulkan bahwa pengajan musik dapat dimulai dengan menentukan konsep pengajan apa yang akan dibuat.


Konsep pengajaran yang dimaksud ialah bentuk musik atau ensamble apa yang akan dibuat. Bila hal ini sudah tertulis dalam kurikulum tempat dimana kita mengajar, maka tugas kita menikuti kurikulum tersebut, bila tidak ada kurikulum, seperti di gereja atau di lembaga luar sekolah, maka yang harus dilakukan adalah menentukan sebuah bentuk ensamble yang akan digunakan sebagai konsep pengajaran kita.

Sebelum kita membahas macam-macam ensamble, kita dapat terlebih dahulu tentang hal-hal yang menjadi pertimbangan untuk menentukan ensamble yang kita buat yang nantinya akan menentukan media yang akan kita gunakan.

1) Umur

Umur adalah hal yang sangat penting, yang harus diperhatikan oleh seorang pengajar. Hal ini menyangkut dengan metode pengajaran, disamping media yang digunakan. Pertanyaan yang harus kita ajukan adalah “Apakah bisa media ini digunakan oleh anak .. ….?”.

Kita akan membutuhkan banyak media untuk mengajarkan musik pada anak TK dibandingkan dengan anak SD, dan seterusnya. Dengan kata lain kita akan mengeluarkan budget yang lebih besar. Tetapi tidak selalu seperti itu. Jangan memaksakan mempelajari hal-hal yang rumit dengan media yang rumit untuk dipraktekan anak kecil. Gunakanlah media yang sederhana (media pada ensamble anak akan dibahas pada bagian ensamble paduan suara).

2) Jumlah murid (orang yang mau belajar)

Anda adalah seorang pemimpin ketika ada mengajarkan musik. Jika anda memimpin lima orang berarti anda akan berusuran dengan lima karakter dan latar belakang karakter masing-masing orang tersebut, jika anda memimpin 10 orang maka kuantitas persoalanpun bertambah, dan seterusnya. Faktor ini berhubungan dengan efektivitas konsep pengajaran yang anda berikan untuk dipelajari.

3) Apresiasi (minat)

Setiap manusia memiliki musik di dalam dirinya, tetapi tidak semua orang berminat untuk menggali esensi tersebut. Sebagai contoh yang sederhana, kita sebagai pengajar tidak dapat memaksakan semua anak untuk mempelajari piano klasik, walaupun kita menganggap mempelajari musik yang peling efektif yaitu dengan alat musik tersebut. Perlu dicatat bahwa pada umumnya kita akan mengajarkan orang yang memiliki apresiasi yang berbeda kualitasnya.

4) Budaya

Budaya adalah hal yang terkadang dilewatkan oleh pengajar. Kita akan menggunakan metode dan mungkin media yang berbeda ketika kita mengajar orang barat dengan orang timur. Mengapa? Karena manusia berpikir berdasarkan budayanya.

5) Dukungan

Faktor dukungan yang dimaksud ialah finansial yang disediakan lembaga tempat dimana kita mengajar. Semakin tinggi apresiasi lembaga itu terhadap musik semakin baik peluang kita untuk mengembangkan/ mengajarkan musik.

Setelah mengetahui hal-hal yang menjadi pertimbangan, pada bagian selanjutnya akan kita pelajari tentang media utama yang digunakan dalam berbagai ensamble musik:

1. ORKESTRA;instrument orkestra adalah sbb:Orchestra Instruments0009.TIFOrchestra Instruments0001.TIFOrchestra Instruments0002.TIFOrchestra Instruments0003.TIFOrchestra Instruments0004.TIFOrchestra Instruments0005.TIFOrchestra Instruments0006.TIFOrchestra Instruments0007.TIF


Orchestra Instruments0008.TIF

Format musik orkestra sangat jarang ditemukan di sekolah-sekolah, kecuali sekolah-sekolah musik seperti SMM (Sekolah Menengah MusiK) dan lembaga-lembaga musik. Karena penggunaannya yang terbetas, penjelasan esamble orkestra hanya sebatas pengenalan intrumen-intrumennya saja (pelajaran lebih lanjut di kelas Orkestrasi). Berikut ini adalah contoh partitur orkestra.

Score orchestra0001.TIF

2. Band

Band adalah format musik yang baik untuk anak remaja. Dan dapat diterapkan di gereja atau pun di sekolah dengan pertimbangan hal-hal yang telah kita pelajari sebelumnya. Formasi sebuah band pada intinya terdiri dari gitar bass, gitar melodi, gitar rhtym, drum set, keyboard dan vokal. Tetapi formasi ini tidak baku, ada yang hanya menggunakan satu gitar selain gitar bass, dan menghilangkan keyboard. Formasi intinya yaitu gitar bass, drum set, gitar dan vokal.

Contoh gambar sebuah band.

Dream.jpgDSC_0035.jpg

DSC_0036.jpg563913314_7b8af02de8_m.jpgDSC_0052.jpgDSC_0041.jpg

Jika kita memilih band sebagai salah satu konsep pengajaran kita (dengan catatan ada dukungan alat) syarat utamanya kita harus memiliki cukup pegalaman di bindang ini. Sehingga posisi kita adalah sebagai pelatih atau aranger dari band tersebut. Kelemahan ensamble ini adalah: mahal (membutuhkan alat intrumen yang mahal tergantung dari tingkatan kualitas), hanya dapat melibatkan sekitar 4-10 dalam satu tim sehingga kurang efaktif jika dilihat dari sudut jumlah murid (jika kita ingin mengajarkan musik kepada banyak orang). Membutuhkan waktu latihan yang intensif dan berkelanjutan. Sedangkan kelebihannya: Mudah menarik perhatian, sehingga lebih cepat digemari, memiliki nilai kepopuleran yang tinggi. Membangun kejarsama dan kebersamaan.

Media pendukung yang dapat digunakan yaitu: score (partitur aransemen band) dan dapat dikerjakan dengan menggunakan sofware musik seperti guitar pro, adobe audition dan cool edit pro.

3. ENSAMBLE SYNTHESIZER (KEYBOARD)

Synthesizer atau yang lebih dengan keyboard adalah alat musik instrumen yang tidak asing lagi bagi kita. Alat ini dapat dijumpai banyak tempat seperti gereja, sekolah-sekolah, lembaga kursus musik, dll. Kemudahan-kemudahan yang ditawarkan alat ini membuat masyarakat kita lebih memilih mempelajari keyboard dari pada piano, sehingga keyboard lebih populer dari pada piano (dalam konteks masyarakat). Sebuah keyboard memiliki berbagai macam variasi suara mulai dari menirukan suara piano hingga suara-suara intrumen orkestra, instrumen band, dan alat musik lainnya. Di samping itu alat musik ini dapat mempermudah pemain dengan fitur-fitur musik style dan recording yang dimilikinya, sehingga pemain tidak perlu repot jika ingin memainkan suatu gaya musik (musik style). Keyboard juga memiliki banyak pilihan merek bergantung dari karakter yang dinginkan.

Bagi para pemain keyboard profesional, karakter keyboard mereka adalah hal yang terpenting. Itulah sebabnya keyboard yang dimiliki oleh para pemain profesional bisa mencapai harga ratusan juta.

Dalam konteks pengajaran, keyboard adalah intrumen yang serbaguna, karena kelebihan-kelebihannya yang telah dijelaskan sebelumnya. Sebagai contoh kita dapat memperkenalkan berbagai musik style hanya dengan sekali tekan. Tetapi perlu dingiat bahwa semakin instan sesuatu hal maka semakin rendah tingga apresiasinya.

Meskipun disebut sebagai alat musik instan keyboard dapat juga dipelajari secara profesional. Hal ini tergantung dari bagaimana cara pandang orang tersebut, kalau orang tersebut hanya memandang keyboard dengan segala fasilitas yang dimilikinya sebagai suatu jalan pintas untuk memainkan musik maka orang tersebut akan kekurangan skill dalam bermain. Sebaliknya, jika seorang memandang keyboard dengan segala fasilitasnya sebagai sarana yang dapat digabungkan dengan skill yang baik, maka keyboard kelebihan-kelebihan yang dimiliki keyboard dapat diekplotasi dengan maksimal.

Fungsi keyboard sebagai media pengajaran sangat efektiv, tuts-tuts hitam putih dapat dijadikan gambar (dalam ukuran yang lebih besar) untuk menjelaskan teori musik dasar hingga tingga teori harmoni dsb. Suara-suara instrumen yang dimilikinya dapat dipakai untuk memberikan gambaran tentang berbagai macam alat musik, berbagai macam format musik, termasuk musik style digunakan untuk menjelaskan berbagai jenis musik dunia.

Disamping menjelaskan teori dan apresiasi musik keyboard juga dapat digunakan untuk untuk melatih skill atau keterampialn bermain musik, baik itu dalam bentuk solo atau pun keyboard ensamble.

Contoh gambar keyboard

Yamaha dgx 630.TIF

Keyboard ensamble adalah kumpulan beberapa keyboard yang dimainkan dengan pilihan suara intrumen yang berbeda. Keyboard ensamble biasanya menirukan suara orkestra dengan menggunakan minimal empat buah keyboard. Keyboard ke-1 dapat meggunakan suara string, keyboard ke-2 menggunakan suara wood winds, keyboard ke-3 menggunakan suara brass section dan keyboard ke-4 menggunakan suara piano atau organ. Bisa juga ditambah dengan alat musik gitar bass dan alat lain yang mendukungnya.

Contoh gambar keyboard ensamble

Keyboard ensamble.TIF

Media pengajaran ini membutuhkan aransemen, bersifat terbatas dalam jumlah orang yang belajar. Dapat melatih kemampuan bermain secara team (ensamble) dengan baik, sangat baik bila digunakan sebagai media pengajaran musik di gereja. Kita sebagai pengajar dituntut memiliki kemampuan membaca not dengan baik, bermain, mengaransir bahkan memimpin (conducting) untuk dapat membentuk sebuah keyboard ensamble.


4. Ensamble Gitar

Seperti halnya keyboard, gitar adalah alat musik yang populer, kita biasa menggunakan gitar untuk mengiringi vokal group, solo, bahkan paduan suara, anak-anak muda sering menggunakannya untuk bernyanyi lagu-lagu yang sedang populer, di gereja ataupun di sekolah-sekolah dan bagi masyarakat, gitar adalah alat musik yang biasa kita temui. Hal ini dapat dijadikan alasan untuk menjadikan gitar sebagai sarana untuk mempelajari musik. Gitar dapat diajarkan secara individu ataupun kelompok, sama seperti alat musik lainnya, memainkan gitar secara profesional membutuhkan waktu yang cukup lama, bahkan pemain-pemain beberapa gitar profesional menghabiskan waktu mereka dengan berlatih menciptakan komposisi dengan skill yang semakin dan semakin tinggi. Tentu hal tersebut tidak akan dicapai dalam 2 atau tiga tahun belajar saja. Tetapi bermain gitar dapat menjadi hal yang menyenangkan, tentu dengan tidak membandingkan hasilnya dengan pemain profesional. Melalui cara yang menyenangkan kita dapat mengajarkan musik melalui media gitar.

Bila kita mempunyai cukup banyak gitar, kita dapat membentuk sebuah atau beberapa ensamble gitar (minimal 2 orang). Cara ini dapat memungkinkan kita mengajarkan teori musik, membaca not balok, harmoni dan hal-hal lainnya yang menjadi tujuan pengajaran musik. Sangat memungkinkan untuk membuat ensamble gitar di sekolah dan gereja. Hal yang perlu diperhatikan adalah gitar yang digunakan harus dalam kondisi on key atau tidak fals. Hal ini yang menuntut koordinator ensamble gitar unutk dapat memastikan gitar yang akan digunakan dalam keadaan tidak fals (ensamble gitar dalam jumlah besar, pengajaran kelas).

Contoh gambar ensamble gitar

Ensamble Gitar Jawadwipa Ensamble Gitar Anak

Gitar Ensamble 2.TIFGitar ensamble 1.TIF

Ensamble gitar dalam sebuah gereja sebenarnya adalah sesuatu yang sangat unik dan menarik, mengiringi pujian-pujian istimewa atau saat-saat tertentu dengan format ensamble gitar akan membuat ibadah tersebut menarik. Ensamble gitar dalam jumlah yang banyak dapat menggantikan posisi organ, keyboard atau piano musik pengiring ibadah. Tentu yang dimaksud di sini ialah ensamble yang sudah dilatih. Hal ini dapat dipakai sebagai variasi jika memungkinkan.

5. ENSAMBLE RECORDER

Recorder adalah alat musik yang paling sering digunakan untuk pembelajaran di sekolah-sekolah di Indonesia. Alat musik ini mudah di dapatkan di toko-toko dengan harga yang bisa dibeli oleh semua pelajar. Selain murah alat musik ini dapat langsung dimengerti cara memainkannya. Beberapa pertimbangan di atas dapat dijadikan acuan bahwa membentuk sebuah ensamble recorder sebagai sarana pembelajaran musik sangatlah mungkin. Recorder sendiri sebenarnya dibagi ke dalam 10 macam jenis yaitu garklein, sopranino recorder, soprano recorder, alto recorder, treble recorder, tenor recorder, bass recorder, great bass recorder, sub contra bass, contra bass recorder, berikut adalah ambitus suara masing-masing jenis recorder

RECORDER FAMILY

Instruments in C

Range

Instruments in F

Range

garklein

D:\Data Que\STAK\Media Pengajaran Musik\Recorder_files\120px-Range_GarkleinRecorder.png

sopranino

D:\Data Que\STAK\Media Pengajaran Musik\Recorder_files\120px-Range_SopraninoRecorder.png

soprano (descant)

D:\Data Que\STAK\Media Pengajaran Musik\Recorder_files\120px-Range_SopranoRecorder.png

alto (treble)

D:\Data Que\STAK\Media Pengajaran Musik\Recorder_files\120px-Range_AltoRecorder.png

tenor

D:\Data Que\STAK\Media Pengajaran Musik\Recorder_files\120px-Range_TenorRecorder.png

bass(bass in F)

D:\Data Que\STAK\Media Pengajaran Musik\Recorder_files\120px-Range_BassRecorder.png

great bass (bass in C)

D:\Data Que\STAK\Media Pengajaran Musik\Recorder_files\128px-Range_GreatBassRecorder.png

contra bass

D:\Data Que\STAK\Media Pengajaran Musik\Recorder_files\120px-Range_ContraBassRecorder.png

subcontra bass

D:\Data Que\STAK\Media Pengajaran Musik\Recorder_files\120px-Range_SubContraBassRecorder.png

sub-subcontrabass

(octocontrabass)

D:\Data Que\STAK\Media Pengajaran Musik\Recorder_files\120px-Range_SubSubContraBassRecorder.png

Alat musik ini sebenarnya alat musik kuno yang sudah ada dari jaman tembaga dan dalam orkestra dikelompokan ke dalam keluarga alat tiup kayu (wood winds)

recorder pada jaman renaisance

Recorder jaman barok


(
dari atas ke bawah) Bass, tenor, alto, soprano and sopranino recorders

Prinsip kerja recorder


Recorder dengan bahan dasar pelastik seperti gambar di samping adalah jenis yang ada di Indonesia, recorder ini memang dibuat untuk pengajaran musik sekolah.

Pengajaran recorder di Indonesia sendiri masih terbatas dalam hal eksplorasi jenis recorder, biasanya sekolah-sekolah hanya mengajarkan recorder dengan satu suara atau dua suara, padahal recorder sendiri memiliki range suara yang luas, dari suara rendah hingga suara tinggi. Alat musik ini terkadang dianggap sebagai mainan saja, dan dianggap tidak dapat digunakan untuk mempelajai apresiasi yang lebih tinggi. Hal ini sebenarnya keliru. Recorder dapat menjadi sebuah ensamble yang besar dangan tingkat permainan yang kompleks. Selain itu, recorder juga dapat digunakan untuk mengajarkan notasi balok, teori musik, apresiasi musik, harmoni, keterampilan (skill) dsb.

Ensamble recorder dapat diajarkan dari tingkat sekolah dasar, atau mungkin taman kanak-kanak hingga tingkat SMU. Semakin besar dan variatif ensamble yang dibuat semakin kita dituntut untuk menguasai alat musik ini dengan baik (jumlah recorder ada 10 macam). Hal ini juga susah untuk dilaksanakan karena kita tidak memiliki semua jenis recorder (hanya 2 atau 3 macam recorder yang sering kita jumpai).


PENJARIAN RECORDER SOPRANO

Recorder0002.TIF

Recorder0001.TIF


Recorder0003.TIF


6. ENSAMBLE PIANIKA

images.jpgPianika adalah alat musik yang dibuat untuk kepentingan pendidikan, terutama untuk pendidikan anak di sekolah-sekolah. Cara bermainnya yang sederhana, serta sifatnya yang portable, dan harganya yang terjangkau membuat alat instrumen ini menjadi pilihan utama media pengajaran/ pembelajaran musik anak.

Alat musik ini juga dapat digunakan untuk mengajarkan teori musik, teknik penjarian, teknik pernapasan, dan harmonisasi. Mengajarkan harmoni melalui pianika dapat dilakukan dengan membentuk ensamble pianika. Masalahnya kita harus menguasai metode pengajaran notasi anak untuk membentuk sebuah ensamble pianikan anak.

Kekurangan pianika yaitu kurang dapat digunakan untuk mengajarkan apresiasi, artikulasi, dan estetika musik. Hal ini dikarenakan, range sauara yang terbatas dan ekploitasi bunyi yang terbatas.

7. MARCHING BAND

Master_1_1103.jpgMarching band adalah suatu group musik antara 20 bahkan sampai 200 orang yang menampilkan berbagai alat musik dan gerakan formasi dengan kostumnnya. Alat-alat musik dalam sebuah marching band dibagi ke dalam 3 kelompok yaitu brass, woodwinds, perkusi.

Marching band berasal dari group musik berjalan yang biasanya tampil dalam acara festival dan perayaan-perayaan pada jaman kuno (acient age). Marching band kemudian diadopsi oleh militer sebagai aba-aba dalam upacara tertentu. Dari militerlah marching band berkembang hingga sekarang ini, bukan hanya di militer di Universitas-universitas di negara-negara maju marching band dipelajarai secara internsif cth: the University of Illinois Marching Illini, University of Michigan's "The Victors", University of Notre Dame's "Victory March", United States Naval Academy's "Anchors Aweigh".

Beberapa tipe marching band yang ada sekarang yaitu:

1) Military Bands : Digunakan untuk kepentingan militer

2) Parade Bands : Marching band yang banyak diajarkan di sekolah-sekolah, perbedaannya terletak pada jumlah alat musik tiup kayu yang lebih banyak.

3) Show Bands : Marching band yang digunakan dalam pertandingan-pertandingan di lapangan. Intrumen yang menonjol yaitu alat tiup logam (brass section), kadang tidak menggunakan alat tiup kayu (wood wind)

4) Carnival Bands : Marching band yang berasal dari Inggris, lebih menunjukan kualitas musik dari pada marchingnya.

5) Scramble Bands : Marching band yang disisipkan komedi.

6) Drum and Bugle Corps: Marching band yang dikembangkan dari military band secara langsung, dengan background pasukan militer dalam setiap penampilannya tetapi lebih bersifat show dan dapat dinikmati.

Alat tiup dalam marching band:

Instrumen musik tiup marching band atau lebih dikenal dengan Marching brass merupakan instrumen-instrumen musik tiup logam yang telah didisain untuk dimainkan sambil berjalan, umumnya instrumen musik tersebut digunakan dalam penampilan marching band. Perbedaan utama dengan instrumen musik tiup logam lainnya umumnya terdapat pada corong yang menghadap ke depan (bell-front), menggunakan sistem katup (antara tiga hingga empat katup), dan artikulasi yang dirancang untuk penampilan di lapangan terbuka (outdoor). Corong yang menghadap ke muka berfungsi untuk membuat suara yang dihasilkan dapat terproyeksi ke arah depan sesuai dengan posisi yang umumnya dipilih oleh penonton dalam sebuah pertunjukan marching band.

1. Terompet

alat musik tiup0001.TIFTerompet dalam penampilan musik marching band digunakan sebagai soprano, umumnya memainkan melodi dalam musik. Meski demikian umumnya dalam aransemen musik marching band fungsionalitas soprano dibagi menjadi dua atau tiga kelompok untuk memainkan nada yang berbeda (biasanya mengisi rentang suara sopran, dan mezzo-sopran). Di Indonesia umumnya grup-grup marching band menggunakan terompet bernada dasar B, namun terdapat pula grup-grup marching band yang menggunakan terompet bernada dasar G.

2. Mellophone

Mellophone merupakan instrumen musik tiup yang ditujukan sebagai pengisi suara alto-soprano. Penggunaan mellophone dalam marching band umumnya lebih diminati karena suara dan intonasi yang dihasilkannya lebih konsisten dibandingkan instrumen musik sejenis seperti French Horn. Jenis mellphone yang paling banyak digunakan umumnya bernada dasar F, namun banyak pula ditemukan instrumen bernada dasar G. Biasanya sebuah instrumen mellophone memiliki kemampuan untuk dimainkan dengan nada dasar G ataupun F dengan mengganti panjang pipa udara yang umumnya tersedia sebagai bagian dalam kelengkapan instrumen tersebut.

3. alat musik tiup0002.TIFTenor Horn

Tenor horn dalam kategori ini merupakan jenis instrumen musik tiup logam dalam keluarga trombone tenor yang telah didisain secara khusus untuk keperluan marching band. Instrumen ini tidak menggunakan sistem geser melainkan menggunakan sistem katup untuk memainkannya, dan panjang dari instrumen ini lebih pendek dari trombone biasa dengan pipa suara yang menggunakan model lipat seperti yang terdapat pada instrumen musik tiup lain: terompet, mellophone. Beberapa pabrikan terkadang memberi nama secara khusus untuk instrumen ini, misalnya: dynabone. Umumnya instrumen tenor horn yang digunakan oleh grup marching band di Indonesia menggunakan nada dasar B.

4. Baritone Horn/Euphonium

Meskipun memiliki fungsi yang sama dengan instrumen yang digunakan dalam pertunjukan orkestra, bentuk baritone horn atau euphonium yang digunakan dalam penampilan marching band telah didisain secara khusus dengan corong menghadap ke muka dan umumnya telah dilengkapi dengan sistem tiga katup. Sesuai dengan namanya instrumen ini digunakan untuk mengisi suara dalam rentang nada baritone. Umumnya instrumen yang digunakan dalam penampilan marching band menggunakan nada dasar B.

5. Contra Bass/Tuba

alat musik tiup0003.TIFContra bass atau Tuba digunakan dalam penampilan musik marching band untuk mengisi suara dalam rentang nada bass. Perbedaan antara contra bass dan tuba terletak pada nada dasar yang digunakan pada instrumen tersebut. Jika nada dasar yang digunakan pada instrumen tersebut adalah G maka disebut dengan contra bass, sebaliknya bila menggunakan nada dasar B maka dinamakan sebagai tuba. Seperti umumnya instrumen musik tiup logam yang digunakan dalam penampilan marching band, instrumen ini telah didisain pula untuk dimainkan sambil berjalan dengan corong menghadap ke depan. Namun berbeda dengan instrumen musik lainnya, karena ukurannya yang besar, untuk memainkan instrumen musik ini dilakukan dengan cara dipanggul.

marching_band_1049.gifmarching_band_0925.gifmarching_band_0937.gifmarching_band_0940.gifmarching_band_1060.gifmarching_band_0392.gifmarching_band_0393.gifmarching_band_0942.gifmarching_band_0871.gifmarching_band_0928.gifAlat musik perkusi

Marching band adalah konsep pengajaran musik yang baik dan banyak kegunaannya. Sekolah-sekolah yang memiliki marching band apalagi digarap dengan pengajaran musik profesional memiliki nilai jual tersendiri. Kekompakan tim, semangat adalah hal yang dapat dipelajari dari marching band selain dapat dipakai sebagai sarana mempelajari harmoni, melodi, ritme. Unsur gerakan kedisiplinan dan tenaga yang lebih untuk bermain dalam kelompok adalah kelebihan dari marching band.

DI samping banyak kelebihan, membentuk sebuah marching band bukanlah hal yang mudah, alat-alat instrumen bernilai jutaan adalah faktor kendala lain yang juga harus dipikirkan.

Seorang pengajar marching band harus memiliki pengetahuan musik di samping pengalaman menjadi seorang player dalam marching band itu sendiri.

7. PADUAN SUARA

DSCF1717.jpgKonsep pengajaran musik yang hampir tidak memerlukan intrumen utama (main instrumens) ialah paduan suara. Tanpa perlu menggunakan banyak instrumen sebuah paduan suara dapat terbentuk. Paduan suara juga dapat dibentuk dari berbagai tingkatan usia. Dengan kata lain jika kita masih memiliki suara untuk bernyanyi dan mau bernyanyi maka dapat membentuk paduan suara.

Paduan suara juga memiliki nilai jual yang tinggi bila dikelola dengan profesional. Selain itu, bukan hanya mengolah suara yang dapat kita peljari dari sebuah paduan suara tetapi juga ilmu musik yang lain seperti apresiasi, keterampilan menbaca not, harmoni, teori, ritme, filsafat musik dsbnya.

Menjadi seorang pelatih paduan suara sama halnya menjadi seorang condukter. Untuk itulah diperlukan dasar-dasar ilmu, skill bernyanyi, leadership, dan kemampuan apresiasi yang baik.

Konsep pengajaran musik melalui paduan suara dapat diterapkan dalam paduan suara anak, paduan suara remaja, paduan suara pemuda, paduan suara dewasa. Perlu dicatat bahwa semuanya memerlukan metode yang berbeda antara mengajar satu jenis paduan suara dengan jenis paduan suara lainnya.

Seorang condukter juga dituntut memiliki refrensi musik paduan suara yang cukup. Disarankan memilikinya dalam bentuk aslinya, sehingga bila lagu tersebut telah diaransemen musiknya dapat lagsung diberikan kepada pemusik dan tidak membuat pemusik mengarang sendiri ketika membaca not angka. Media lain yang diperlukan ialah stand musik, alat musik pengiring, steam flute, dll.

8. TEORI MUSIK

Sebenarnya mengajarkan teori musik diikuti dengan praktek, misalnya: bernyanyi atau bermain alat musik individu atau dalam kelompok. Media yang digunakan adalah media visual baik itu papan para nada (untuk mengajarkan notasi balok) atau pun media berbasis teknologi dengan menggunakan LCD. Ada juga media pengajaran not balok yang sering juga digunakan untuk kelas solfegio pemula yaitu card note. Kartu yang digunakan untuk pengenalan not dan juga mengajarkan tinggi rendah nada, artikulasi, ekspresi, interval, dll. Digunakan juga untuk melatih musik sejak dini (balita).











Cara membuatnya yaitu dengan menggambar informasi musik yang ingin kita ajarkan dan dibelakang kartu kita tuliskan jawabannya.



C




Tampak Depan


Tampak Belakang

not.TIF

MEDIA GAMBAR UNTUK MENGAJARKAN TEORI MUSIK PADA BALITA

Mengajarkan teori pada anak (usia 5 thn ke bawah) bukanlah hal yang mudah, tetapi bukanlah hal yang mustahil. Pada dasarnya kita harus mengajarkan musik melalui hal-hal yang sering mereka temui, berceritalah karena hal tersebut membuat anak untuk berpikir dan mengingat. Perlu dicatat bahwa apabila kita berhasil mengajarkan musik pada anak usia balita, berarti kita menaruh sebuah fondasi musik yang kokoh pada nak tersebut. Salah satu media yang membantu ialah gambar yang dapat dibuat cerita. Media ini dapat digunakan di gereja (Sekolah Minggu atau di pendidikan (TK dan Playgroup).

Media Visual0001.TIF

Dapat digunakan untuk mengajarkan ada nada tinggi ada nada rendah, yang tinggi seperi ulat di tanah yang tinggi seperti burung di udara.Media Visual0002.TIF

Digunakan untuk mengajarkan tinggi rendah nada terlebih khusus suara tinggi perempuan dan suara rendah suara pria.

Media Visual0003.TIFMedia Visual0004.TIF

Digunakan untuk mengajarkan nilai not, dapat dibuat ceritera bola yang sering digunakan oleh badut, ada 4 bola dan dua bola.

Media Visual0005.TIF

Dapat digunakan untuk menjelaskan whole note (not 4 ketuk), paruh bebek menyerupai bentuk whole tone, cerita bebek mengambil nafas selama empat ketukan.

Media Visual0007.TIF

Media Visual0006.TIF

Gambar jam big ben dipakai untuk mengajarkan not tinggi diikuti not rendah, seperti bunyi jam tersebu.

Media Visual0008.TIFDapat dipakai untuk mengajarkan ekspresi yaitu f

(forte/ keras)

Media Visual0009.TIFUntuk mengajarkan ekspresi p (piano/ lembut)

Media Visual0010.TIF

Untuk mengajarkan tanda sukat (birama) ¾

Media Visual0011.TIF

Untuk mengajarkan gerakan not turun (5 4 3 2 1) dalam not balokMedia Visual0012.TIF

Untuk menjelaskan tentang garis paranada

Media Visual0013.TIF

Untuk menjelaskan tentang not di spasi dan di garis

Media Visual0014.TIF

Menjelaskan teknik slur

Media Visual0017.TIFMedia Visual0015.TIFMedia Visual0016.TIF

Menjelaskan interval

BEETHOVEN !!!!!!!!





MEDIA PENGAJARAN BERBASIS TEKNOLOGI

Media pengajaran berbasis teknologi yang akan kita pelajari ialah SIBELIUS. Sibelius merupakan salah satu software penulisan notasi musik yang dikembangkan oleh dua orang bersaudara yaitu Jonathan Finn dan Ben Finn. Pada dasarnya, sofware penulisan notasi sibelius memiliki fungsi dasar, yaitu untuk menulis notasi sekaligus mendengarkan data suaranya yang berbentuk file MIDI. Dibandingkan dengan sofware penulisan musik lainnya, sibelius memiliki beberapa keunggulan diantaranya fasilitas composing toll. Fasilitas ini memungkinkan kita untuk melengkapi sebuah komposisi maupun aransemen musik secara otomatis dengan bagian drum dan bagian ritem yang merupakan realisasi dari simbol akor. Ada pula fasilitas untuk merealisasikan figured bass serta memperluas kemungkinan pengelolahan sebuah melodi menggunakan teknik inversi dan retrograsi. Kemudian, fasilitas performance dapat menampilkan karakter pemain yang menyerupai pemain seorang musisi, sehingga tidak sekedar memainkan tetapi mendekati bagaimana karya tersebut dipertunjukkan. Selanjutnya sebagai tahap akhir kita dapat dengan mudah menyimpan karya ke dalam bentuk file audio (wav).

Sibelius juga dapat digunakan sebagai alat pembelajaran dan pengajaran dalam pendidikan musik. Sebagai media pembelajaran interaktif sibelius sangat membantu dalam pembelajaran materi-materi musik yang berhubungan dengan solfegio, harmoni, analisa bentuk musik, orkestrasi, dan lainnya.

MEMBUKA SIBELIUS (QUICK START)

Gambar 1. Membuka sibelius Melalui shortcut di destop

Dalam keadaan default, ketika pertama kali sebelius dibuka, akan muncul jendela Quick Start. Namun, apabila jendela Quick Start tidak muncul, maka kita dapat membukanya melalui menu file dan memilih Quick Start. Selanjutnya, agar jendela Quik Start muncul otomatis, tandailah check box pada show this each time sibelius start pada bagian kiri bawah.

Gambar 2. Jendela Quick Start

Pada Quick Start, ada beberapa pilihan yang masing-masing kegunaannya sebagai berikut:

* Open Recent File, untuk membuka 10 file terakhir yang disimpan.

* Open, untuk membuka file lain.

* Open MIDI File, untuk membuka file MIDI (.mid) untuk diedit di sibelius.

* New, untuk memulai penulisan score baru.

* Scan, untuk men-scan musik (score) menggunakan program Neutron PhotoScore Lite.

Untuk memulai sebuah pekerjaan menulis notasi, langkah pertama yang dilakukan adalah memilih tab New pada Quick Start atau pada keadaan sibelius telah dibuka dengan cara memilih Fileà New atau shortcut Ctrl + N. kemudian, muncullah jendela New Score. Di sini, kita akan melakukan pemilihan kertas manuskrip (manuscript paper), ukuran kertas, serta instrumen yang akan digunakan.

MEMILIH KERTAS MANUSKRIP (MANUSCRIPT PAPER)

Manuscript paper menunjukkan formasi susunan intrumen pada score yang akan kita tulis. Seibelius telah menyediakan bantuk-bentuk yang biasa digunakan dalam penyajian sebuah karya musik seperti bentuk: Big Band, Brass Band, Choir SATB, Strings Quartet, Solo Piano, Solo Guitar, Concert Band, Jazz Quartet, dan lain-lain. Cobalah mencari bentuk susunan intrumen yang sesuai dengan score yang akan dibuat pada daftar yang tersedia dengan mengklik satu kali pada kotak pilihan. Lihatlah susunan (preview) pada kotak di sebelah kanannya. Namun, apabila tidak menemukan susunan yang sesuai dengan keinginan, maka pilihlah Blank. Sebaliknya, untuk memilih instrumen dengan menekan tab Add Instrument.

Gambar 3. Jendela New Score

MEMILIH UKURAN KERTAS

Untuk memilih ukuran kertas yang akan digunakan, klik pada tanda panah di bawah Page Size. Pilihlah ukuran kertas sesuai dengan printer yang digunakan dengan mengklik kiri pada pilihan yang tersedia. Pada umumnya, ukuran kertas yang digunakan adalah ukuran A4 (kuarto) atau ukuran F4 (folio). Kemudian, kita pun bisa melakukan hal lain, seperti memilih orientasi kertas, yaitu dalam keadaan normal (potrait) atau memanjang (landscape) dengan mengklik pada check point berbentuk bulat di sebelah kanannya.

MEMASUKAN INSTRUMEN (ADD INSTRUMENT)

Pilihan ini digunakan untuk memilih instrumen-instrumen yang akan digunakan pada score. Lakukan dengan mengklik tab Add Instrument. Maka, akan muncul jendela Instrumens and Staves seperti pada gambar di bawah ini.

Gambar 4. Memasukkan Instrumen

Pada jendela Add Instrument, ada tiga kolom pilihan, yaitu Choose From, Family, dan Instrumen. Fungsi masing-masing pilihan adalah:

* Choose Form, digunakan untuk memilih instrumen-instrumen pada ketegori medium musik tertentu, yaitu All Instrumen untuk menampilkan seluruh instrumen. Band Instrumen untuk instrumen-instrumen yang digunakan dalam band, dan sebagainya.

* Family, adalah instrumen-instrumen yang masuk ke dalam keluarga tertentu, seperti keluarga gitar, keluarga tiup kayu, keluarga gesek, keluarga perkusi, dan lain-lain.

* Instrumen, digunakan untuk memilih instrumen yang dikehendaki. Cara memasukkan instrumen adalah mengklik satu kali, kemudian menekan tab Add to score. Maka, nama instrumen akan muncul di jendela Staves In Score sebelah kanan. Sebagai contoh, di sini sipilih Voice dan Piano. Untuk mengubah urutannya, gunakanlah tab Move Up atau Move Down, Sebaliknya, untuk menghapus nama instrumen dari score, gunakanlah tab Delate from score.


MEMILIH JENIS FONT

Selanjutnya, klik tab Next agar muncul jendela House Style. House Style akan menentukan bagaimana nantinya hasil pencetakan terlihat. Setiap penerbit musik memiliki house style berbeda-beda, yaitu perbedaan jarak-jarak teks, garis-garis, dan objek lainnya. Ada beberapa pilihan, yaitu: Hand written, Jazz handwritten, Standart, dan lainnya. Sebaliknya, untuk memilih janis font utama yang digunakan, pilihlah dengan mengklik pada tanda panah ke bawah pada Main text font, kemudian, klik Next.

Gambar 5. Memilih Jenis Font yang Digunakan

MEMASUKAN TANDA WAKTU ATAU SUKAT DAN TEMPO (TIME SIGNATURE AND TEMPO)

Setelah itu, jendela Time Signature and Tempo akan muncul. Tahap selanjutnya adalah memilih tanda waktu (tanda sukat) dan penunjuk tempo yang akan digunakan. Pilihlah tanda sukat sesuai dengan score yang akan ditulis melalui pilihan yang tersedia dengan mengklik pada bulatan di sebelah tanda sukat. Apabila tidak ada gunakanlah other dan pilihlah dengan mengklik pada tanda panah ke bawah pada masing-masing pembilangan dan penyebutnya.

Ganbar 6. Jendela Time Signature and Tempo

Tab Beam and Rest Group untuk mengelompokan not-not yang istirahat untuk jumlah bar tertentu. Bila pada score yang akan ditulis dimulai dengan pukulan up beat, maka beri tanda check pada Start with bar of leght, kemudian pilihlah berapa nilai not pukulan up beat di score yang akan ditulis pada pilihan di sampingnya.

Penunjuk tempo dapat diberikan dengan dua cara, yaitu penunjuk teks dan tanda metronome. Kita dapat memilih penunjuk teks seperti andante, moderato, slow, dan lainnya dengan mengklik pada tanda panah ke bawah di samping Tempo text atau dapat menulis sendiri tempo yang dikehendaki. Untuk tanda metronom, tandailah pada check box Metronome mark, lalu pilihlah satuan hitungan nada dan isikanlah angka di sebelah kanannya yang menunjukan banyaknya ketukan. Langkah berikutnya adalah klik next, sehingga muncul jendela key signature (tanda kunci).

KEY SIGNATURE (TANDA KUNCI)

Pilihlah tanda kunci dengan score yang akan ditulis dengan mengklik satu kali pada pilihan yang tersedia. Ada dua pilihan tanda kunci, yaitu tanda kunci mayor dan tanda kunci minor. Kemudian, ada pula pilihan untuk open key yang digunakan untuk musik atonal (tidak berdasar mayor atau minor). Kemudian, klik next yang akan memunculkan jendela Score Info.

Gambar 7. Memilih Tanda Kunci (Key Signature)

SCORE INFO

Jendela Score Info digunakan untuk memasukan informasi-informasi mengenai score yang ditulis meliputi judul, komposer, penulis lirik, hak cipta, dan lainnya. Pada kolom Title, isilah dengan judul karya. Tulislah nama komponis atau penulis lagu pada kolom Composer/ Songwriter, nama penulis lirik pada kolom Lyricist, dan hak cipta yang dimiliki pada kolom Copyright. Kemudian, tulislah info tambahan pada Other Information.


Langkah selanjutnya adalah mengklik tab Finish. Maka, jadilah kosep score yang akan kita tulis sebagai berikut:

Gambar 9. Konsep Score yang Siap Diketik

SETUP HALAMAN

Sebelum melakukan tahap selanjutnya, kita sebaiknya melakukan setup halaman terlebih dahulu. Selain untuk menentukan ukuran kertas yang nantinya dijadikan patokan ketika akan melakukan pencetakan (printing), setup halaman meliputi pula pilihan-pilihan untuk menentukan margin dan ukuran para nada. Langkah pertama yang dilakukan adalah memilih menu LayoutàDocument Setup (Ctrl + D), maka akan muncul jendela Document Setup.

Pada pilihan paling atas, pilihlah jenis satuan ukuran yang akan dipakai, yaitu Inches, Pionts, atau Milimeters. Kemudian, pada page size pilihlah jenis ukuran kertas yang digunakan (ukuran yang nantinya akan di-print). Staff Size digunakan untuk mengubah ukuran para nada dan posisi default-nya adalah 7. Apabila kita mengubah dengan angka yang lebih kecil, maka para nada akan mengecil. Sebaliknya, jika kita mengubahnya ke angka yang lebih besar, maka ukuran sangkar nada akan menjadi besar.

Pada Page Margins, pilihlah Same bila menginginkan margin yang sama untuk semua halaman, Mirrored untuk bolak-balik, dan Different bila menginginkan margin yang berbeda pada setiap halaman. Kemudian, ubalah angka-angka pada kotak di kanannya (yang dinyatakan dalam milimeter) di mana setiap kotak mewakili posisi margin kiri, kanan, atas, dan bawah. Unutk mengubah margin pada halaman berikutnya, klik pada tanda ke kanan (Change page). Lihat hasilnya pada jendela Preview, kemudian klik Ok.



SOAL TES TENGAH SEMESTER
MATA KULIAH MEDIA PENGAJARAN MUSIK

Bagi Mahasiswa yang belum memfoto copy bahan kuliah yang selama ini diberikan, dapat di browsing di www.mediapengajaranmusik.blogspot.com

1. Gambar di atas adalah gambar konsep pengajaran musik, ditinjau dari media yang akan digunakan. Jelaskanlah hubungan gambar disamping (urutannya dilihat dari perputaran roda)?
2. Sebut dan jelaskan 5 hal yang menjadi pertimbangan dalam membentuk sebuah ensamble (konsep pengajaran musik) ?
3. Sebut dan jelaskan 3 jenis ensamble yang telah Anda pelajari, yang dapat digunakan sebagai sarana pengajaran musik?
4. Sofware Sibelius adalah salah satu media pengajaran berbasis teknologi. Jelaskanlah segala sesuatu yang anda ketahui mengenai sofware ini berikut kegunaannya?
5. Sebut dan jelaskan salah satu media yang dapat digunakan untuk mengajarkan musik pada balita?











Tidak ada komentar:

Poskan Komentar